Aku, Mama, dan Plester Luka

Aku dan mama selalu rajin membeli plester penutup luka, setiap pergi2 agak jauh, untuk jaga2 kalau sampai terluka kita slalu bawa plester2 tsb. Sekarang mungkin ada sekitar 3 bungkus di rumah. Tapi paling tidak masing2 baru terpakai 1 plester saja dalam tiap bungkusnya. Dan sebenarnya kita lumayan sering terkena luka entah tergores pisau, dicakar kucing, terkena percikan minyak atau lainnya. Setiap kali ada luka, kita slalu berpikir kalau ditutup plester lukanya akan lama kering, sebaliknya jika terbuka akan cepat kering dan semakin cepat sembuh. Ketika luka itu sembuh dan hilang semua akan baik2 kembali. Begitu seterusnya setiap kali terluka. That’s why plester kami selalu utuh. Selama masa proses penyembuhan itu aku dan mama tau betul rasa perih, sakit, dan tidak nyaman pada luka2 kami tsb. Tapi semua pasti bisa terlewati. Kami menjadi tidak manja pada luka di badan, mungkin, karena kami pernah mengalami “luka” yg bahkan obat dokter pun tdk mampu menyembuhkan. “Luka” yg tak mampu tersentuh obat merah, yang tak bisa ditutupi plester, “luka” yg hanya akan sembuh oleh waktu. Mungkin atas dasar itu lah, luka berdarah di atas kulit bukan masalah besar bagi kami untuk mengatasinya karena kami pernah melalui rasa sakit yang lebih menguras air mata kami. Rasa kecewa karena di khianati, rasa disia-sia kan karena terus setia, rasa kesal karena dibohongi, rasa tak dianggap karena terus menunggu dan sungguh sepertinya semua telah sembuh, walau meninggalkan bekas dalam ingatan yang tidak akan pernah hilang setidaknya itu bisa dijadikan semangat untuk kami bisa menjalani luka2 lain kelak. Kita tim yang solid mam! Tetaplah seperti ini. Karena akan selalu ada saja masalah selagi kita masih bernafas dan aku percaya selalu ada pula senyuman setelah tangis. Selamat hari ibu. Aku mencintaimu!

Itu adalah kalimat-kalimat yang mungkin tidak pernah sanggup aku katakan, tulisan tersebut kutulis ketika hari ibu, karena sungguh aku tidak pintar berucap secara lisan. Setiap kata yang keluar dari bibir ketika aku bertemu orang2 mungkin semuanya sering terdengar kasar, jorok, sering juga terdengar lucu. Itu semua semata-mata untuk menutupi kekuranganku dalam berlisan. Seperti kerang dengan cangkang yang keras untuk menutupi dagingnya yang lembut. Aku selalu bertopeng kuat untuk menutupi wajah asli ku yang rapuh, rapuh sejak rasa percayaku pada manusia hilang perlahan. Namun apapun itu aku akan selalu mencoba membahagiakan mama. Sekalipun dia tidak sadar itu dan seringnya tidak merasa puas dengan tindakanku, tapi aku selalu mencoba yang terbaik. Hanya tidak ingin membuatnya khawatir karena aku selalu berusaha untuk mengatasi masalah hatiku sendiri, dengan diam dan berjalannya waktu aku yakin luka2 yang ada akan sembuh perlahan.
Aku jadi teringat pada sebuah tulisan yang pernah kubaca, begini kurang lebih kutipannya.
“”” Kekecewaan memang pahit. Orang sering tidak tahan menanggung rasa kecewa yang dialaminya. Mereka cenderung membuang jauh-jauh sumber kekecewaan tersebut. Begitu pula denganku. Aku berusaha menghindar dari mereka yang telah mengecewakanku. Aku berusaha menutupi rapat-rapat kekecewaanku itu, menekan rasa kecewa itu.
Namun ternyata itu tidak dikehendaki oleh Islam. Karena dengan bersikap seperti itu, suatu saat perasaan kecewa akan mudah bangkit lagi dengan rasa sakit yang lebih perih. “””
Tentu aku ingin mengikuti apa yang islam ajarkan, namun saat ini menghindar adalah cara paling ampuh bagiku untuk meredakan semua rasa ini. Aku percaya roda itu berputar, waktu akan terus berjalan. Mungkin sekarang bagianku sedang berputar kebawah dan semua orang pernah alami hal yang sama. Biarlah dua tahun belakangan ini menjadi masa2 sulit dalam hal hidupku tapi sungguh Allah tidak akan memberikan cobaan yang melebihi batas kemampuan umatnya. Ia tahu betul aku adalah orang yang mampu mengatasi hal2 semacam ini.
Dan untuk siapa saja yang sedang mendapatkan “luka” ini, ikhlas saja dan bersabarlah, ya walau aku tau ikhlas dan sabar adalah 2 hal yang tak semudah menyebutkannya. Kamu gak sendiri, aku, dia, mereka pernah atau sedang mengalami hal yang sama. Tersenyumlah ketika kau bahagia, dan tetap tersenyumlah ketika kau bersedih. Percayalah bahwa Tuhan sedang mencintaimu lebih saat ini. Tulisan ini untuk kalian dan untuk menamparku juga untuk segera sadar, bahwa aku dikelilingi orang2 yang mencintaiku dan janganlah berlama2 dalam kesedihan.
Hakunamatata 🙂
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s